MULTILINGUAL BOLEH, TAPI TETAP CINTAI BAHASA INDONESIA

MULTILINGUAL BOLEH, TAPI TETAP CINTAI BAHASA INDONESIA

BAGIKAN

Oleh: Dewi Nuralisah
Mahasiswa Diksatrasia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

TOPTIME.CO.ID-Bahasa merupakan salah satu wadah untuk melakukan komunikasi antarmanusia seyogianya digunakan dan diposisikan sebagai bahasa yang dapat mempertahankan jati diri suatu bangsa, sehingga identitas suatu bangsa tetap terjaga. Bahasa dan masyarakat seperti sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, bahasa merupakan alat komunikasi sebab tidak ada kegiatan yang tanpa berhubungan dengan bahasa. Masyarakat tidak akan terlepas dari bahasa, masyarakat tersebar diberbagai daerah karena itu lah bahasa yang digunakan pastilah berbeda-beda. Masyarak bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Dengan demikian jika ada sekelompok orang yang merasa sama-sama menggunakan bahasa Sunda, maka bisa dikatakan mereka adalah masyarakat bahasa Sunda.

Terbentuknya masyarakat bahasa karena adanya saling pengertian (mutual intelligibility), terutama karena adanya kebersamaan dalam kode-kode linguistik secara terinci dalam aspek-aspeknya yaitu seperti sistem bunyi, sintaksis, dan semantik. Karena saling pengertian itulah terkadang terjadilah alih kode maupun campur kode dalam berbahasa.

Masyarakat di Indonesia merupakan masyarakat multilingual yaitu masyarakat yang mempunyai beberapa bahasa atau menguasai beberapa bahasa. Masyarakat demikian terjadi karena beberapa etnik ikut membentuk masyarakat, sehingga dari segi etnik bisa dikatakan sebagai masyarakat majemuk. Masyarakat yang multilingual biasanya secara sadar atau tidak melakukan alih kode dan campur kode. Kode biasanya berbentuk varian bahasa yang secara nyata dipakai untuk berkomunikasi antaranggota suatu masyarakat bahasa. Alih kode dan campur kode sering kali terjadi dalam berbagai percakapan masyarakat, alih kode dan campur kode dapat terjadi dalam berbagai kalangan masyrakat, status sosial seseorang tidak dapat mencegah terjadinya alih kode maupun campur kode.

Alih kode merupakan peralihan pemakaian dari suatu bahasa atau dialek ke bahasa atau dialek lainnya. Alih bahasa ini sepenuhnya terjadi karena perubahan-perubahan sosiokultural dalam situas berbahasa. Jadi, perubahan-perubahan yang dimaksud adalah meliputi beberapa faktor yaitu hubungan antara pembicara dan pendengar, jika hubungan diantara keduanya sangat akrab mereka dapat menggunakan ragam santai untuk mengobrol, selain itu tujuan berbicara juga dapat memengaruhi terjadinya alih kode, dan topik yang dibicarakan, kemudian waktu dan tempat berbincang. Jika waktu dan tempat berbincang itu terjadinya di situasi formal seperti rapat kerja, walaupun yang berbicara dan lawan bicaranya sudah akrab tetapi mereka harus menggunakan ragam formal pada saat itu. Alih kode dapat terjadi karena adanya orang ketiga ketika sedang berlangsungnya sutau perbincangan.

Campur kode adalah suatu keadaan berbahasa lain bilamana orang mencampur dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran bahasa itu. jadi, keadaan tidak memaksa atau menuntut seseorang untuk mencampur suatu bahasa ke dalam bahasa lain saat peristiwa tutur sedang berlangsung. Penutur dapat dikatakan secara tidak sadar melakukan percampuran serpihan-serpihan bahasa ke dalam bahasa asli. Dapat dilihat perbedaan antara alih kode dan campur kode, jika alih kode terjadi karena kesadaran penutur ketika memilih menggunakan bahasa dan situasi pun menuntut penutur untuk tidak atau pun melakukan alih kode. Tetapi jika campur kode penutur secara tidak sadar mencampur bahasa yang digunakan dan situasi tidak menuntut penutur untuk tidak atau melakukuan campur kode.

Adapun sebab terjadinya alih kode dan campur kode selain karena faktor multilingual ada juga faktor dari penutur yaitu prilaku dan sikap penutur yang dengan sengaja beralih kode terhadap mitra tutur karena tujuan tertentu. Lalu lawan tutur atau mitra tutur yang dengan sengaja melakukan alih kode karena ingin mengimbangi kemampuan berbahasa lawan tuturnya. Kemudian hadirnya orang ketiga atau orang lain yang tidak berlatar belakang bahasa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh penutur dan lawan tutur.

Ada beberapa penelitian mengenai alih kode dan campur kode, seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Jusmianti Garing dari Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Barat. Bahwa alih kode dan campur kode dapat terjadi pada tuturan di pertelevisian Indonesia. Pemakaian alih kode dan campur kode pada media elektronik khususnya televisi di Indonesia sangat jelas terlihat pada pembawa acara televisi, para juri dan peserta lomba menyanyi di beberapa stasiun yang ada. Tak dimungkiri bahwa melalui media televisi orang dapat berkomunikasi sekaligus dapat hiburan. Akan tetapi, secara tidak sadar media ini pula dapat membawa pengaruh negatif khususnya pada perkembangan bahasa Indonesia. Pada beberapa saluran televisi di Indonesia khususnya RCTI, Indosiar, dan Tvone tampak adanya penggunaan alih kode dan campur kode. Pembawa acara, para juri, maupun peserta lomba menggunakan alih kode dan campur kode seperti dari bahasa Indonesia ke bahasa asing. Selain itu, dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa dan Sunda. Dengan berbagai bahasa yang dikuasai oleh pelaku seni tersebut sehingga dengan mudah mengganti bahasa secara bergantian sesuai dengan situasi, kondisi, dan tujuan tuturannya.

Dari penelitian tersebut, dapat dilihat bahwa campur kode dan alih kode terjadi pada siapa saja, tidak dilihat dari status sosial penutur, baik dia seorang artis, pejabat, atau pun masyarakat biasa dapat melakukan alih kode dan campur kode.
Fenomena percampuran bahasa ini merupakan suatu tantangan tersendiri bagi bangsa kita untuk tetap menjaga bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Oleh sebab itu, pemangku kepentingan atau stakeholder bangsa ini harus betul-betul memberikan perhatian besar pada penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam komunikasi agar eksistensi bahasa Indonesia tetap terjaga sehingga bahasa kita dapat berkembang sesuai karakter bangsa Indonesia yang bermartabat.

Komentar

comments