Stop Plagiarisme: Boleh Tenar Asal Pakai Cara Yang Pintar

Stop Plagiarisme: Boleh Tenar Asal Pakai Cara Yang Pintar

BAGIKAN

Oleh: Devi Tasyaroh

TOPTIME.CO.ID-, ARTIKEL-Baru-baru ini Indonesia diguncang oleh bencana moral plagiarisme. Di mana plagiarisme merupakan penjiplakan buah karya orang lain tanpa mencantumkan hak cipta dan mengakuinya sebagai milik sendiri persis seperti seorang pencuri. Ibarat pakaian yang dijemur, plagiarisme adalah orang yang mengangkat baju namun tidak sempat menjemurnya di depan teras rumah. Dan lucunya seorang plagiat dihargai dan dijunjung tinggi. Mau dibawa kemana negeri ini?

Padahal banyak sekali mereka yang membutuhkan apresiasi dalam bidangnya masing-masing yang notabene telah mengharumkan nama bangsa. Haruskah keburukan yang akhirnya berkuasa? Sedangkan kehebatan begitu berkembang pesat di negara kita. Sesungguhnya, Indonesia adalah negeri yang penuh dengan inovasi hanya saja kurang dilirik dan dijunjung tinggi.

Tulisan ini saya tujukan tanpa maksud menyindir pihak manapun, jika tersinggung harap maklum. Mungkin Anda adalah salah satu pelaku berperangai buruk tersebut.
Mengapa kasus ini bisa muncul?

Sebenarnya teknologi sangat mendukung upaya ini terjadi, misal saja kata-kata mutiara yang banyak bertebaran di situs web seperti google. Mungkin karena kebiasaan yang terlalu sering copas alias copy paste plagiat ini menganggap itu bukanlah suatu kesalahan. Meskipun pada kenyataannya salah besar. Seperti inilah penduduk negeri, akibat minimnya informasi yang diserap membuat siapapun terperdaya akan hal-hal sepele namun berakibat fatal.

Kunci utama dalam permasalahan ini adalah ketenaran. Ingin dikenal orang namun dengan cara instan. Sebenarnya banyak yang instan di Indonesia; mie goreng, mie rebus, mie dengan rasa rendang, namun tidak dengan menjiplak hasil karya orang. Banyak cara yang bisa kita lakukan jika ingin terkenal. Dengan otak gemilang ciptaan Tuhan maka maksimalkan dengan cara yang benar. Asah bakat dengan giat berlatih, zaman sekarang sudah banyak sekali media yang dapat kita jadikan penyalur hobi.

Menyebut kata rendang, bahkan makanan khas negeri kita itu sempatdijiplak negara tetangga. Apa reaksi kita? Tentu saja, menindaklanjutinya. Namun, apa yang kita lakukan sebelum kasus itu terjadi? Kita bahkan dibuat terlena dengan makanan cepat saji, bangga dengan foto yang berlatarkan restoran khas luar negeri. Sedangkan milik kita lupa dijunjung tinggi. Wajar saja hal itu terjadi, jika pemiliknya saja tidak ada rasa memiliki, jangankan menjaga bahkan untuk melestarikannya pun enggan. Dan untungnya rendang sempat diselamatkan.

Sedikit bercerita, saya memiliki hobi menulis yang akhir-akhir ini baru dikembangkan melalui media sosial dan saya bisa membuktikan hal itu hingga akhirnya salah satu karya saya pun dapat dimuat di salah satu beranda penerbit terpercaya walau tidak begitu mempengaruhi publik setidaknya saya belajar memanfaatkan teknologi dengan benar. Banyak teman menulis saya yang resah akan posisi mereka sebagai penulis pemula, jangankan mencuri hasil karya orang lain untuk mendapatkan apresiasi saja sangat sulit. Dan saya harap, masalah ini menjadi bahan pembelajaran bagi generasi penerus negeri untuk senantiasa berdedikasi dalam menjunjung tinggi nama Indonesia pertiwi. Berkaryalah, agar kita menjadi orang yang berjaya.

Dan juga ada tindak lanjut dari petinggi negeri, cobalah untuk menghargai kami yang memiliki secuil inovasi, setidaknya kami masih mampu berpikir untuk pencitraan nama kami. Bukan dari mencuri apalagi bersikap seolah-olah tidak bersalah setelah melakukan semua hal yang telah terjadi. Perlakukan kami dengan baik sebagai penduduk negeri yang masih punya harga diri. Setidaknya kami tidak ingin tenar jika bukan dari cara yang pintar.

Komentar

comments